Hati-hatilah dengan pengeluaran kecil. Keretakan kecil dapat menenggelamkan kapal besar. (Benjamin Franklin, Tokoh Amerika Serikat)
Di balik potensi besar bisnis online serta pertumbuhannya yang bak meteor, ternyata terdapat ancaman yang tidak bisa dianggap remeh. Apalagi, kalau bukan bangkrut. Katadata.co.id di pertengahan 2020 pernah menuliskan bahwa ada 5 bisnis rintisan berbasis digital yang tak bisa bertahan. Penyebabnya bukan semata-mata karena tak bisa bersaing dengan kompetitor yang terus berdatangan atau pandemi, tetapi juga karena faktor manajemen keuangan bisnis yang kurang tepat.
[article_cta title=”Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!” description=”Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.” primary_cta_text=”Mulai Sekarang” primary_cta_link=”https://web.lummoshop.com/login/?lp=cara-kelola-keuangan-bisnismu” secondary_cta_text=”Unduh LummoSHOP” secondary_cta_link=”https://link.lummoshop.com/3WLUBBx1qrb”][/article_cta]Sebagai pelaku bisnis online D2C (Direct to Consumer) yang baru berjalan, pernahkah kamu berada dalam posisi, “Perasaan omzetnya banyak deh, tapi kok kayaknya enggak ada hasilnya?” Jika tak pernah, bersyukurlah. Tapi, tetap jangan sembrono. Jika pernah, ini adalah indikasi bahwa kamu harus memperbaiki cara kelola uang usaha. Tentunya, kamu tak mau bernasib sama dengan mereka yang sudah “menyerah” karena masalah cara kelola uang usaha juga, bukan?
Alokasi atau manajemen keuangan usaha yang tepat adalah salah satu kunci agar bisnismu tak hanya berumur seperti jagung, tapi berkelanjutan. Sekalipun saat ini jualan online kamu baru merintis dan belum menampakkan hasil sesuai harapan, tetapi tak ada salahnya menerapkan cara kelola usaha yang baik dan benar. Hal tersebut sama seperti perumpamaan tak harus menunggu jadi orang penting atau orang terkenal dulu bukan untuk memiliki manner yang baik karena hal tersebut sejatinya wajib dilakukan siapa saja agar hidup lebih teratur dan lebih baik lagi.
Alokasi Keuangan Bisnis D2C
Lalu, apa saja yang berkaitan dengan alokasi keuangan usaha yang perlu kamu lakukan di bisnis D2C (Direct to Consumer) ini?
Pisahkan Uang Bisnis dan Pribadi
Tidak semata-mata demi profesionalisme tapi memisahkan uang bisnis dengan uang pribadi juga menghindari kesalahpahaman di kemudian hari. Janganlah mentang-mentang kamu adalah pemilik bisnis kemudian bisa mengabaikan masalah ini. “Ah, nanti-nanti saja deh dipisah, toh baru berjalan!” NOPE. Bila perlu, buatlah rekening sendiri agar mudah mengontrolnya.
Tentukan Biaya Tetap dan Variabel
Tentukan biaya tetap dan biaya variabel sejak awal. Biaya tetap adalah biaya-biaya yang harus kamu keluarkan secara berkala tak peduli ada penjualan atau tidak, misalnya biaya listrik, biaya langganan internet, dan semacamnya. Sedangkan biaya variabel adalah sebagaimana namanya (variabel) yang jumlahnya berubah-ubah tergantung dengan banyak tidaknya kegiatanmu selama periode tertentu. Misalnya, bulan ini kamu sering bertemu supplier dan untuk menjangkau mereka, kamu butuh taksi sedangkan bulan sebelumnya kamu tidak ke mana-mana. Dari contoh tersebut, sudah bisa diketahui bahwa biaya variabel naik taksi bulan ini lebih besar daripada bulan lalu.
Beberapa contoh biaya variabel selain contoh tersebut, misalnya:
- Biaya untuk mengembangkan usaha. Kamu bisa menyisihkan secara berkala dari laba yang kamu dapatkan, misalnya 5% dari laba periode tersebut karena toh usahamu masih baru berdiri.
- Biaya cadangan untuk kondisi terburuk. Sebaiknya kamu juga mengalokasikan ini secara berkala untuk berjaga-jaga ketika kondisi luar terpuruk sehingga berimbas ke usahamu. Dengan adanya biaya ini, setidaknya kamu masih bisa bertahan selama beberapa waktu di kondisi tragis sembari mengatur strategi perbaikan berikutnya. Kamu bisa menyimpan dana cadangan ini dalam bentuk lain, logam mulia misalnya yang nilainya lebih stabil atau tahan banting.
- Gaji dan bonus karyawan. Kalau status karyawan tidak tetap (bayaran per jam/per hari, maka beban gajinya menjadi variabel)
- Kegiatan sosial. Jangan lupakan ini karena meski menjalankan bisnis D2C (Direct to Consumer), kamu juga harus mempedulikan sekitar, jangan hanya sibuk meraup laba sebanyak-banyaknya.
- Pajak. Hal penting yang tak boleh kamu lewatkan agar bisnismu lancar.
Jangan Tergoda Menggunakan Uang Bisnis untuk Memenuhi Gaya Hidupmu
Kamu pasti senang, jika orang lain berkata,” Wah sudah sukses ya! “. Kemudian memuji kamu. Kita semua sepakat tentunya bahwa hal tersebut adalah “kebutuhan” setiap orang sebagaimana teori Maslow tentang pentingnya manusia diakui eksistensinya. Sebagai pemilik bisnis online D2C (Direct to Consumer), kamu pastinya bahagia jika teman-temanmu atau netizen menganggapmu sukses tercermin dari galeri Instagrammu yang dipenuhi foto-foto baik dari dalam maupun luar negeri.
Bukannya tidak boleh bersenang-senang, bukan. Tentunya, refreshing atau merayakan keberhasilan bukanlah hal yang tabu. Namun, akan jadi masalah jika kamu berlebihan. Ingatlah bahwa sejatinya uang bisnis atau uang jualan online kamu adalah “uang panas”. Meskipun laba periode tersebut tampak besar, tapi belumlah besar sungguhan ketika kamu belum mengurangi dengan berbagai biaya yang ada. Jangan sampai menggunakan laba operasional perusahaan untuk berfoya-foya atau membiayai gaya hidupmu. Tentunya kamu sering membaca kisah miliader yang bangkrut hanya karena gaya hidup yang berlebihan. Maka, berhati-hatilah. Jangan sampai menggunakan “uang panas” untuk hal-hal yang tidak penting, seperti memuaskan ego semata, misalnya.
Selalu Buat Laporan Keuangan yang Rapi
Financial statement atau laporan keuangan (neraca, laporan laba rugi, laporan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan) adalah hal wajib dalam bisnis. Darinya, kamu bisa melihat banyak hal: apakah bisnismu berkembang atau tidak, perlukah penghematan lagi, aset meningkat atau sama saja, dan semacamnya. Dalam praktiknya, kamu bisa menggunakan software. Misalnya, untuk membuat laporan penjualan harian, kamu bisa menggunakan LummoSHOP. Dari sana, tercatat dan terekam semua jejaknya. Kamu bisa lebih menghemat waktu, bukan?
Target Peningkatan Laba yang Kamu Inginkan
Misalnya, kamu menetapkan di tahun pertama, setidaknya ada peningkatan laba sekurang-kurangnya 15% daripada laba sebelumnya. Ini sama halnya seperti target hidup/resolusi, penting untuk direncanakan untuk menyiapkan strategi agar bisa mewujudkannya.
Salah satu poin mengenai cara kelola uang usaha di atas adalah mengenai alokasi dana untuk pengembangan usaha. Mungkin, pertanyaan selanjutnya darimu adalah berapa persentasenya untuk mengembangkan bisnis online atau jualan online kamu? Sebenarnya, tidak ada patokan khusus. Kamu bebas menentukan berapa saja. Namun, beberapa pakar menyebutkan sebagaimana dilansir di kompas.com bahwa persentasenya tak lebih daripada 10%. Kenapa? Ya, janganlah terlalu banyak juga karena kamu masih butuh dana untuk kegiatan operasional.
[article_cta title=”Mulai Jualan Online dengan LummoSHOP!” description=”Dengan website toko online yang lengkap dan praktis, tidak ada lagi penghalang untuk optimalkan peluang pertumbuhan bisnismu.” primary_cta_text=”Mulai Sekarang” primary_cta_link=”https://web.lummoshop.com/login/?lp=cara-kelola-keuangan-bisnismu” secondary_cta_text=”Unduh LummoSHOP” secondary_cta_link=”https://link.lummoshop.com/3WLUBBx1qrb”][/article_cta]Manajemen keuangan bisnis adalah hal krusial, tak terkecuali untuk bisnismu yang baru saja beroperasi. Tujuan manajemen keuangan bisnis sebenarnya simple yakni sebisa mungkin mengalokasikan keuangan atau dana bisnis secara optimal. Sebagaimana yang ditulis dalam buku Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan karya Bambang Riyanto yang mengatakan bahwa manajemen keuangan bisnis adalah semua aktivitas yang berkaitan dengan usaha untuk mendapatkan dana lalu menggunakan dan mengalokasikan dana tersebut. Tidak sedikit bisnis yang sebenarnya berpotensi, tapi bangkrut hanya karena kurang bisa mengelola keuangan. Tentu, kamu tak mau ini terjadi dengan bisnismu, bukan? Selamat mengelola dan mengalokasikan keuangan bisnis dengan baik, ya!