Semua orang bisa membuat brand. Apakah brand itu hanya sebatas merek atau logo? Siapa yang ingin brandnya membesar hingga mendunia seperti Indomie atau Kopiko? Yuk kita sama-sama belajar dari praktisi Brand yang sudah melanglang buana di dunia Brand dan membesarkan merek terkenal di Indonesia, Subiakto Priosoedarsono.
Apa itu Brand?
Brand atau merek bukan hanya sebatas merek atau hanya logo. Slogan, logo, dan merek termasuk ke dalam brand identity atau identitas dari sebuah produk. Saat kita sudah membentuk atau membangun sebuah bisnis, kita sudah menganggap memiliki merek. Faktanya, sebuah merek tidak bisa tercipta tanpa sebuah kegiatan. Kegiatan dalam brand biasa dikenal dengan branding. Setelah ada kegiatan, akan tercipta persepsi dari customer mengenai brand.
“Your Brand is NOT what you say about you. You Brand is what people say each other about you”
– Subiakto (Praktisi Branding)
Contohnya kamu membuat sebuah produk kue dengan jenis jappanese yang terkenal dengan kelembutannya. Setelah dibuat kamu lakukan test pasar dengan memberikan kue secara gratis ke target market. Setelah mereka mencoba kata pertama yang muncul “lembut”. Dan itu dikatakan oleh banyak tester.
Rasa pertama yang dirasakan si tester misalkan enak dan lembut akan berproses menjadi brand. Kata lembut pun bisa kamu gunakan sebagai slogan. Maka sebuah merek pun bisa memiliki arti sebagai
“Brand adalah ikatan emosi antara produk dan konsumen”
Merek yang kamu buat dapat dikatakan brand jika sudah memiliki pelanggan. Untuk memiliki ikatan emosi, merek yang kamu buat harus memiliki core value dan added value.
Mau Di Bawa Kemanakah Merek Kamu?

Yang mesti kamu ingat dalam mengembangkan sebuah merek diperlukan proses. Saat awal yang dikejar merek bukanlah seberapa banyak penjualan melainkan seberapa dektan ikatan emosional kamu dengan pelanggan. Puncak dari proses menjadi merek itu sebagai brand heaven. Bagaimana menciptakan brand heaven?
- Interaksi Positif : Interaksi ini bisa dibangun saat tanya jawab dengan customer. Ataupun saat di media sosial, bagaimana kita memberikan responnya cepat atau lambat, informasi yang diberikan detail dan lengkap tidak, dan jangan lupa berikan keramahan.
- Percaya : Membangun kepercayaan di sini, apa yang dituliskan mengenai produk, apa yang digambarkan harus sesuai dengan kenyataannya.
- Konsisten : Apa yang customer sukai dari awal bisa tetap dipertahankan dan terus melakukan evaluasi.
- Ahlinya : Kamu berani untuk merekrut orang yang ahli dalam membuat strategi marketing dan content.
- Krebilitas : kredibitas dan reputasi adalah elemen yang penting dalam sebuah merek. Kamu bisa meminta testimonial atau menggunakan influencer yang memiliki track record baik untuk menggunakan produk.
- Loyalitas : Branding bisa membuat pembeli menjadi pelanggan. Kamu bisa mengadakan loyalty program berupa diskon, cashback, ataupun hadiah.
Nah, produk atau merek yang memiliki ikatan emosi dengan konsumennya pasti akan menjadi merek yang kuat atau brand heaven. Jika sudah seperti itu sebuah merek pun bisa bersifat jangka panjang karena menciptakan konsumen yang loyal. Jangan heran ya, jika produk kamu akan cepat terjual dan akan dibela oleh konsumen nantinya.
Bagaimana Langkah Membuat Sebuah Merek?

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, bahwa sebuah merek harus memiliki ikatan emosi dengan konsumennya. Untuk mendapatkan itu semua, merek kamu harus memiliki core value dan added value.
Menurut Pak Subiakto, sebelum dikatakan sebuah merek, nama produk atau merek yang kamu buat harus melakukan strategi brand canvas.
- Produk : cari tahu peluang usaha yang cocok di kota kamu. Kamu bisa memilih produk yang akan dijual berdasarkan kesukaan kamu terlebih dulu.
- Market Category : Menurut Pak Subiakto, market category adalah langkah awal yang harus dilakukan untuk mengetahui dimana produk kita akan masuk.
- Competitors : Cari tahu dan analisa competitor produk dan market kategori yang serupa dengan bisnis kamu.
- Segmenting : Pengelompokan pada market berdasarkan karakteristiknya masing-masing. Termasuk size nya. Kamu bisa mengelompokkan berdasarkan geografi, demografi, psychograph, dan kebiasaan.
- Targeting : menentukan segmen mana yang akan dituju sesuai dengan manfaat produk yang dimiliki.
- DNA : Brand DNA terbentuk dari esensi merek itu sendiri dan juga manfaat atau nilai utama dari si brand. Contoh DNA Kopiko yakni Kopi. Kupastibisa.com memiliki DNA ‘semangat’ diwujudkan dalam kata pasti bisa.
- Added Value : added value atau nilai tambah biasanya dilengkapi setelah produknya ada agar tidak kalah dari competitor.
- New Category : Kamu bisa menambahkan kategori baru jika produk yang kamu miliki lebih unggul dibandingkan dengan kategori serupa. Contohnya jika kamu memesan pizza untuk diantar ke rumah, jika lebih dari 30 menit akan mendapatkan pizza regular.
- Barrier to entry : Usaha yang dilakukan kita agar para pesaing tidak masuk dalam kategori yang diciptakan. Barrier to entry yang kuat membuat competitor sulit meniru produk kamu.
- Positioning : bagaimana strategi kamu ingin dikenal di benak masyarakat.
- Personality : bagian dari brand image yang dipegang oleh konsumen dan mengacu pada antropomorfisasi merek, dimana atribut manusia melekat pada objek merek, yang diperlakukan seperti orang dengan siapa mereka mungkin suka membentuk suatu hubungan.
- Nama : karakteristik dari produk. Kamu bisa memperlihatkannya pada packaging, logo dll.
- Logo : harus terdapat visi dan misi bukan hanya karena enak dipandang saja. Saat melihat logo, orang dapat bisa merasakan keterikatan emosi hanya dari logo saja.
- Slogan : logan, tagline akan semakin kuat jika berbasis pada DNA, core value, added value dan positioning.
- Pengalaman : Semua hal di atas tadi, akan customer rasakan saat mencoba produk atau mengunjungi tempat usaha kamu.
Semua bisa bikin brand. Perlahan asalkan benar sesuai dengan langkah di atas dan menemukan mentor yang tepat. Produk yang kamu buat bisa menjadi brand heaven!