Pebisnis, pernah dengar personal branding? Tak hanya untuk branding untuk produk, bisnis maupun perusahaan. Tapi ada juga branding yang dilakukan untuk membentuk citra diri. Mungkin orang lebih familiar untuk karir atau profesional. Padahal, sebagai pengusaha atau pebisnis pun perlu melakukannya.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana caranya dan apa sih pentingnya personal branding untuk pebisnis terutama pebisnis D2C? Apakah dengan melakukan hal tersebut bisa berdampak pada bisnis? Nah, temukan semua jawabannya dengan baca artikel ini sampai habis ya.
Apa Itu Personal Branding?
Personal branding adalah sebuah cara yang dilakukan oleh seseorang untuk memperkenalkan atau mempromosikan dirinya kepada orang lain, baik untuk kepentingan karir atau bermasyarakat ataupun berbisnis. Biasanya, ini digunakan untuk membantu mendongkrak karir dengan memposisikan dirinya sebagai ahli dalam sebuah industri.
Dengan mengembangkan personal brand, seseorang dapat menumbuhkan pengikut atau follower untuk membantu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, menjual lebih banyak produk dalam bisnis, dan meningkatkan peluang yang lebih baik dalam karir.
Membangun personal brand bukanlah sesuatu yang terjadi dalam semalam. Perlu banyak perencanaan dan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mulai dapat melihat hasilnya. Tak jarang kamu perlu meningkatkan personal brand setelah menerima feedback. Jenis branding ini juga bisa disebut self-branding.
Seperti halnya branding untuk bisnis, untuk membangun personal branding sendiri, kamu juga dapat menulis personal brand statement. Personal brand statement ini intinya seputar menetapkan siapa audiens kamu nantinya, nilai yang ingin kamu berikan kepada audiens, dan mengapa orang harus mengikuti kamu atau dengan kata lain unique selling proposition (USP) kamu.
Mengapa Personal Branding Penting?
Personal branding menjadi penting karena dapat membantu memberikan seseorang lebih banyak kredibilitas. Terlebih untuk kamu yang berprofesi sebagai pebisnis atau pengusaha baik B2C, B2B maupun D2C (direct to consumer).
Dengan semakin banyak orang yang membangun personal branding, kamu perlu menempatkan diri di luar sana untuk menjadi pusat perhatian. Melalui hal ini, dapat membuat perekrut atau bahkan partner maupun investor menemukan pakar seperti kamu dengan mudah, terutama kalau kamu pernah membuat blog brand.
Kalau kamu mengincar investor ataupun kredibilitas di mata konsumen, kamu bisa menampilkan data penting seperti jumlah pengikut yang dimiliki, berapa banyak lalu lintas yang didapat website, berapa banyak penjualan yang kamu hasilkan, berapa banyak konsumen loyal kamu, berapa nilai kepuasan pelanggan, apakah jualan barang cepat laku atau metrik penting lainnya yang dapat memberimu keunggulan kompetitif dibandingkan kandidat lain.
Anggap saja hampir seperti portofolio online tentang diri kamu. Dengan personal branding memungkinkan lebih banyak orang untuk mengenal siapa kamu dan bagaimana kamu membawa nilai. Imbasnya, kamu berpeluang mendapatkan kesepakatan bisnis atau kemitraan pemasaran, terutama jika kamu adalah orang yang berpengaruh.
Personal branding menanamkan kepercayaan dan kredibilitas dalam pengetahuan dan kemampuan kamu, sehingga perusahaan tahu bahwa bermitra dengan kamu akan meningkatkan brand awareness mereka. Pencitraan diri dengan cara yang otentik dengan menunjukkan kepribadian kamu adalah cara terbaik untuk membedakan diri kamu dari orang lain di bidangmu dan mengembangkan personal branding.
Cara Meningkatkan Personal Branding
Mungkin tak banyak orang yang melakukan personal branding. Namun, bagi yang telah melakukannya, dalam perjalanannya, kamu mendapatkan berbagai feedback. Feedback ini juga dapat berguna untuk memastikan self-brand kamu selaras dengan pernyataan yang akan membantu meningkatkan kemajuan kamu.
Tapi bagaimana meningkatkan personal branding yang selama ini sudah kamu lakukan?
- Riset dan buat personal brand statement. Tentukan audiens kamu dan audit pesaing yang mungkin ada untuk posisi kamu atau bidang yang serupa.
- Bangun strategi personal branding. Rencanakan bagaimana cara terlibat dan berinteraksi dengan audiens target kamu dan tentukan seperti apa kesuksesan kamu dalam dua bulan, sembilan bulan, hingga dua tahun.
- Pantau engagement personal branding kamu. Promosikan partisipasi positif dan buat rencana tindakan untuk komentar negatif.
- Kembangkan personal branding kamu. Tujuannya untuk membagikan atau memberi tahu pada khalayak personal branding kamu melalui media sosial, network, outreach, dan peluang berbicara. Pertimbangkan blogging, vlogging, podcast, dan cara lain yang bisa kamu lakukan untuk mempromosikan kamu sedemikian rupa sehingga audiens akan mengkonsumsi konten dengan cepat.
- Miliki rencana komunikasi. Mengontrol kehadiran kamu secara online dapat memakan waktu sehingga rencana ini akan membantu kamu untuk menghindari hal-hal negatif dan membantu memberikan informasi kepada mitra yang akan bekerja sama dengan kamu.
- Ukur kesuksesan secara teratur. Tetapkan beberapa KPI untuk kesuksesan personal branding kamu sehingga tahu bahwa kamu sedang menuju ke arah yang benar. Jangan lupa untuk merayakan kemenangan kecil sekalipun untuk tetap termotivasi meraih yang lebih baik lagi.
Setelah melakukan hal di atas, lantas bagaimana kamu tahu kalau upaya kamu telah berhasil membangun personal branding? Ada beberapa KPI yang bisa kamu pertimbangkan di antaranya:
- Saat penjualan dikonversi melalui blog kamu
- Saat kamu diminta untuk berbicara di sebuah acara atau di podcast
- Ketika seseorang merujuk kamu ke klien potensial
- Ketika sebuah publikasi menjangkau untuk mengundang kamu sebagai penulis tamu
- Ketika orang-orang mulai menyebut kamu secara online, di media sosial, blog mereka, atau media penting lainnya
Bagaimana Personal Branding Berdampak pada Bisnis?
Personal branding seorang pebisnis dibangun berdasarkan apa yang ditampilkan di berbagai platform media, interaksi dalam aktivitas bisnis dan dengan rekan-rekan industri. Personal branding yang merupakan kombinasi dari citra pribadi dan profesional seseorang, secara langsung dapat berdampak pada bisnis mereka dalam berbagai cara. Apa saja dampaknya?
- Sebagai wajah dari bisnis atau perusahaan
Percayalah, ini adalah investasi yang baik bagi pebisnis direct to consumer, karena brand kamu akan dimanusiakan dengan cara ini. Jadi, bagi konsumen, rekanan, dan investor, selalu ada keterikatan langsung dengan bisnis saat menyebut sebuah nama. Contohnya adalah Mark Zuckerberg, yang selalu identik dengan Facebook. Setiap penampilan pribadinya, tulisannya, wawancara atau pidatonya selalu mengingatkan penonton tentang perusahaannya.
Oleh sebab itu, penting bagi pebisnis brand direct to consumer untuk membangun image yang kuat karena kamu tak lagi bicara tentang diri sendiri, tapi juga menjadi wajah bisnis atau perusahaan.
- Persepsi orang tentang bisnis dipengaruhi dari personal branding pemilik atau CEO
Tergantung pada jenis eksposur media yang dimiliki oleh seorang pebisnis atau pengusaha, ditambah jenis interaksi dengan rekan-rekan mereka di industri, seseorang dapat memiliki citra positif atau negatif. Bila kamu membangun personal branding dari awal dengan baik maka citra yang terbangun pada perusahaan atau bisnis direct to consumer milikmu pun akan tetap positif.
Lain halnya bila kamu membangun personal branding yang buruk, apalagi dengan track record kecerobohan di masa lalu, salah urus atau kegagalan bahkan skandal, maka akan mempengaruhi citra bisnis kamu. Akibatnya kamu bisa saja mengalami krisis ketidakpercayaan dari konsumen.
Selain itu, hindari pula komentar yang tidak sopan terhadap pesaing, mantan rekan kerja, atau dukungan yang tidak konsisten terhadap suatu tujuan yang tidak sejalan dengan perusahaan atau bisnis. Mengapa? Karena apa yang kamu lakukan tersebut dapat berefek di kemudian hari yang mendiskreditkan pencapaian bisnis kamu. Dampaknya bisa fatal dan memengaruhi posisi keuangan perusahaan, cara pandang serta tingkat kepercayaan konsumen terhadap bisnis kamu dan di antara karyawan.
Di sisi lain, catatan karir pebisnis D2C yang mencerminkan integritas, konsisten, jujur dan otentik dapat memberikan efek positif terhadap kinerja masa depan bisnis dan memberikan kesan yang andal terhadap produk kamu. Dan imbasnya tentu saja jualan barang cepat laku dan kepuasan pelanggan pun meningkat.
- Meningkatkan minat investor dan talent baru
Personal brand pebisnis khususnya pemilik brand D2C akan sangat mempengaruhi keputusan orang lain tentang apakah akan melakukan kerjasama bisnis atau tidak. Jadi, sebagai seorang pebisnis D2C yang memiliki citra berwibawa sebagai inovator dan game changer di bidang keahlian tertentu dapat menciptakan aura kepercayaan yang luar biasa.
Hal ini bisa dengan cepat membuat calon investor tertarik untuk melakukan investasi yang lebih besar di perusahaan. Selain itu, personal branding pebisnis D2C yang kuat dapat berguna sebagai magnet bagi para inovator, talenta baru, dan rekan industri untuk berkolaborasi secara sukarela dengan perusahaan untuk mendorong pertumbuhan dan jangkauan yang lebih cepat.
Konsumen cenderung memandang bisnis dan brand serupa dengan manusia, dengan tujuan, kepribadian, etika, dan perilaku tertentu selain kualitas produk, layanan, dan aksesibilitas, dengan aspek emosional dari kecerdasan kognitif mereka. Mengingat faktanya, karena hubungan emosional sama pentingnya dengan penjualan yang terhubung ke audiens target dan pemangku kepentingan lainnya.
Kesimpulan:
Personal branding tak semata untuk kebutuhan karir, tetapi pebisnis manapun termasuk pengusaha D2C pun wajib membangun image yang kuat. Pastikan bahwa kamu menciptakan sesuatu yang otentik, konsisten, dan relevan untuk menguntungkan bisnis yang mampu menghasilkan jualan barang cepat laku dengan tingkat kepuasan pelanggan dan kepercayaan yang tinggi.