Pesatnya Perkembangan Bisnis Online di Tanah Air
Perkembangan bisnis online di tanah air bisa dibilang sangat pesat. Betapa tidak, sejak “masuknya” model bisnis berbasis internet tahun 1994 silam dari salah satu provider, jumlah pengguna bisnis model tersebut nyatanya terus naik hingga kini. Berdasarkan analisis Ernst & Young yang dilansir oleh kominfo.go.id, pertumbuhan nilai penjualan bisnis online meningkat setidaknya 40% per tahun. Bahkan alih-alih daya beli masyarakat turun karena pandemi, transaksi bisnis online justru semakin melaju. Kondisi tersebut malah mendorong pebisnis baru untuk ikut terjun bisnis/jualan online. Menurut Asosiasi Ecommerce Indonesia (IDEA) sebagaimana yang dikutip bisnis.com, setidaknya hingga Maret 2021, pebisnis baru yang ikut bergabung jualan online mencapai 4,8 juta, naik drastis hanya dalam waktu tiga bulan jika dibandingkan dengan Desember 2020 sejumlah 3,8 juta.
Bisnis atau jualan online memang memiliki daya tarik tersendiri. Kemudahan dan kepraktisan serta jangkauan yang lebih luas adalah tiga di antaranya. Jika saat ini, kamu memiliki ketertarikan untuk membuka usaha atau mengembangkan bisnis kecil yang sudah kamu miliki, maka tidak ada salahnya kamu memilih bisnis online.
Tipe-tipe Bisnis Online
Sebelum benar-benar terjun ke bisnis atau jualan online, alangkah baiknya jika kamu mengetahui terlebih dahulu mengenai tipe-tipe bisnis online. Bukannya hendak menakut-nakuti. Tapi, kamu memang harus benar-benar paham di awal bahwa bisnis tak sekadar ikut-ikutan teman. Setiap orang bisa jadi memiliki model bisnisnya sendiri yang sesuai dengan karakternya, modalnya, atau bahkan jenis produk/jasa yang ditawarkannya. Ketika temanmu cocok dengan model bisnis A, tak serta merta kamu juga pasti cocok dengan model bisnis serupa.
Memahami tipe-tipe bisnis online juga membuatmu tak mudah teralihkan atau mudah tergoda apalagi kehilangan fokus mengingat saat ini ada begitu banyak hal menggiurkan yang ada di depan mata. Kelak, ketika bisnis kecil yang kamu kembangkan secara online ternyata belum sesuai harapan, kamu tidak akan mudah tumbang atau beralih begitu saja ke model bisnis yang lain karena kamu paham bahwa setiap tipe/model bisnis punya konsekuensinya masing-masing.
Lalu, apa saja tipe-tipe bisnis online yang harus kamu tahu?
- B2A (Business to Administration)
Disebut juga business to government karena bisnis ini dilakukan dari pelaku bisnis yang menjual barang atau jasa ke pemerintah. Dari sisi pemerintah, biasanya mereka mengajak kerjasama pebisnis dalam rangka memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat. Situs-situs resmi yang dimiliki pemerintah adalah contoh konkret dari contoh model bisnis ini.
- B2B (Business to Business)
Contoh nyata dari model bisnis B2B ini adalah transaksi yang dilakukan antara grosir dengan pengecer. Mereka berdua sama-sama pemilik bisnis, tetapi dengan skala usaha yang berbeda. Contoh lain dari tipe bisnis ini adalah dari perusahaan suku cadang ke perusahaan otomotif. Jadi, transaksi yang terjadi adalah antarperusahaan atau antar pemilik bisnis. Tidak ada konsumen akhir dalam model bisnis ini karena barang/jasa yang menjadi sumber transaksi masih diproses untuk menjadi bentuk lain.
- B2C (Business to Consumer)
Sebagaimana namanya, B2C ini adalah model bisnis yang langsung dari penjual atau pemilik bisnis ke konsumen akhir. Pemilik bisnis dalam konteks ini bisa termasuk reseller. Jika target pasar B2B adalah sesama pemilik bisnis, maka target pasar B2C adalah konsumen akhir.
- B2E (Business to Employe)
Transaksi bisnis model ini adalah dari perusahaan atau pemilik bisnis ke karyawannya. Bisa dibilang, B2E adalah sejenis layanan yang memudahkan karyawan dalam melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan perusahaan tempat ia bekerja. Misalnya, saat karyawan tersebut membutuhkan tunjangan kesehatan saat dirawat di rumah sakit, dia tidak perlu melewati prosedur yang kompleks karena hanya dengan “bermodalkan” mengakses situs perusahaan tempat ia bekerja semua sudah beres dan teratasi.
- C2A (Consumer to Administration)
Model bisnis C2A ini mirip seperti B2A, hanya saja jika pada B2A adalah antara pemerintah dengan perusahaan sedangkan kalau C2A adalah antara pemerintah dengan perseorangan.
- C2C (Consumer to Consumer)
Model bisnis ini melibatkan transaksi antar konsumen. Misalnya, kamu (yang dalam hal ini adalah perseorangan) menawarkan laptop bekasmu melalui sebuah situs dan di saat yang sama ada orang lain yang tertarik dan ingin membeli laptopmu. Transaksi yang kamu lakukan antara kamu dan orang tersebut adalah contoh model bisnis C2C.
- C2B (Consumer to Business)
Jika biasanya konsumen bertindak sebagai pihak yang melakukan permintaan dan pemilik bisnis sebagai pihak yang melakukan penawaran, maka di model bisnis C2B ini sebaliknya. Ya, konsumenlah yang menawarkan produk atau jasa yang ia miliki. Misal, kamu memiliki keahlian tertentu kemudian menawarkan keahlianmu ke pasar online tenaga kerja melalui situs tertentu. Atau, kamu memiliki produk berupa foto-foto kemudian menawarkannya melalui sebuah situs.
- O2O (Online to Offline)
Model bisnis ini adalah perpaduan bisnis offline dan online. Konsumen diberi pilihan untuk membeli secara offline alias langsung mendatangi lokasi bisnis atau membeli secara online melalui situs yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Contoh paling nyata yang sangat dekat dengan kehidupan kamu adalah Indomaret dan Alfamart yang memiliki toko secara fisik maupun online. Kamu diberi pilihan: bisa beli online atau offline.
- D2C (Direct to Consumer)
Jika model bisnis sebelumnya mungkin terasa sedikit membingungkan atau kurang familiar bagi kamu yang baru saja belajar usaha atau ingin mengembangkan bisnis kecil, maka metode bisnis terakhir yang dijelaskan di sini sebaliknya: MUDAH. Ya, mudah dipelajari, mudah dibayangkan, dan mudah juga dipraktikkan saat ini atau sesegera mungkin.
Sebagaimana namanya, model bisnis D2C atau direct to consumer adalah model bisnis yang langsung menghubungkan pemilik bisnis dengan konsumen tanpa adanya perantara sama sekali. Seperti yang dilakukan di LummoSHOP. Jika kamu sebagai pemilik bisnis online yang menggunakan metode D2C ini, maka kamu bisa langsung berinteraksi dengan pengguna produk/jasamu. Kamu bisa langsung mendapat feedback sebagaimana mereka yang bisa langsung mengenalmu tanpa adanya “sekat” atau tanpa perlu adanya penghubung lagi. Masih banyak lagi keuntungan dari menerapkan model bisnis D2C untuk bisnis onlinemu, diantaranya lebih mengenal pelangganmu dan dapat membangun merek bisnismu sendiri.
Pilihan Ada di Tanganmu
Setelah mengetahui tipe-tipe bisnis di atas, kini saatnya kamu mengeksekusi. Manakah kira-kira tipe bisnis yang sesuai denganmu? D2C atau direct to consumer-kah atau mungkin C2C? Atau, tipe bisnis lainnya? Jika kamu bertipe eksploratif, mungkin kamu akan mencoba semua atau setidaknya beberapa tipe bisnis di atas, kemudian kamu baru akan memutuskan mana yang kira-kira paling cocok atau menguntungkan untukmu. Namun, jika kamu tipe orang yang tidak mau buang-buang waktu, maka tidak ada salahnya berpikir sedikit lebih lama guna menelaah tipe bisnis mana yang saat ini paling cocok untukmu. Apa pun itu, pilihan ada di tanganmu. Selamat memilih!