Banyak orang sudah menyadari untuk tidak bergantung pada satu pendapatan saja. Maka dari itu, banyak orang sudah memulai membuat usaha atau bisnis meskipun masih skala kecil atau rumahan. Biasa kita kenal dengan UKM. Ada beberapa kendala yang kerap ditemukan para pelaku UKM, misalkan modal yang minim, produk bagus tapi omset masih kecil, atau belum menjadi top-of-mind. Nah jika kamu mengalami kendala-kendala seperti itu, artikel ini akan memberi kamu saran bagaimana branding yang mudah diterapkan untuk perkembangan bisnis.
Selling Dulu atau Branding Dulu?
Sudah saatnya UKM naik kelas. Naik kelas di sini bukan selamanya harus selalu pindah ke pasar premium. Menurut Dwita Soewarna, UKM bisa tetap berada di target pasar sebelumnya asalkan memenuhi poin-poin berikut:
- Meningkatkan kualitas
- Meningkatkan volume
Dua hal tersebut dapat dibantu dengan melakukan branding. Tidak dipungkiri, UKM sangat berorientasi terhadap Profit dan Cash. Konsep branding baru akan dibuat setelah yakin ada yang menerima produk atau jasa.
Selling menjadi target market yang datang menjadi pembeli/customer. Kemudian closing dan terjadilah transaksi. Selling bersifat sementara, maka harus dibantu perencanaan marketing selama produk berlangsung.
Branding membuat customer menjadi pelanggan atau konsumen yang loyal, cinta, dan kangen dengan produk. Branding mampu meningkatkan nilai dan daya saing produk.
Selling dan branding bisa dilakukan secara bersamaan. Maka dari itu, sebaiknya kamu memiliki karyawan yang fokus untuk operasional dan kamu bisa memikirkan strategi untuk membangun brand melalui branding.
Visual Brand Identity dan Scent Marketing, Langkah Awal Branding yang Mudah
Branding itu aktivitas atau kegiatan agar customer memiliki persepsi dan respon sesuai yang kita harapkan. Tujuan dari branding menciptakan ikatan emosi antara brand dan konsumen.
Untuk menciptakan emosi yang paling mudah melalui visual brand identity dan juga scent marketing.
Visual brand identity merupakan segala sesuatu yang dilihat customer pada brand. Sedangkan scent marketing adalah strategi menciptakan aroma yang sesuai dengan brand agar customer selalu mengingatnya.
- Visual Brand Identity
Jangan hanya membuat visual yang enak dipandang tetapi buatlah visual yang mudah diingat tapi lekat dengan makna brand. Hal-hal yang harus kamu persiapkan di antaranya:
-
- Logo : Identitas dasar dari sebuah brand ada pada logonya. Bagaimana membuat logo dan saat orang itu melihat sudah mengetahui brand apa.
- Tipografi atau gaya teks : Ditentukan oleh persona, tujuan dan jenis usaha yang dimiliki.
- Warna : sebaiknya warna ini tak hanya diaplikasikasikan pada logo saja, kamu bisa menggunakannya untuk cat bangunan outlet atau kantor, packaging.
- Aset fisik : Meliputi packaging, seragam karyawan, dan desain toko.
- Social media : Meliputi layout feed diusahakan menggunakan brand identity yang sudah disebutkan di atas.
Visual brand identity di atas harus berjalan konsisten. Kamu juga harus melakukan survey apakah brand identity tersebut sudah melekat pada konsumen atau belum. Membuat visual brand identity yang konsisten akan menciptakan pengalaman yang unik dan berbeda. Sehingga lebih mudah melekat pada benak konsumen.
- Scent Marketing
Scent marketing atau membuat aroma khusus untuk brand terbukti efektif membuat ikatan emosi dengan konsumen. Hanya dengan mencium aroma saja, customer bisa ‘kangen’, ingat dan bisa membeli.
Contoh brand yang menggunakan scent marketing Roti O, Roti Boy, J.Co, Erha Clinic. Hingga tanpa disadari tukang sate pun menerapkan strategi scent marketing, lho!
Kebanyakan yang menggunakan scent marketing ini adalah produk makanan tapi kamu yang memiliki bisnis dibidang jasa pun bisa menerapkannya. Gunakan aroma ini pada tempat-tempat berikut:
-
- Kantor
- Lobby
- Toilet
- Area lift
- Jalan umum atau spot tertentu
Scent marketing juga bisa dilakukan saat bisnis kamu sedang melakukan event besar. Aroma yang tercium oleh konsumen bisa menjadi sihir agar mereka mau melihat area event atau bazaar brand kamu.
Tips Agar Branding Efektif
Jika kamu sudah melakukan branding tapi hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, kamu bisa mengikuti Langkah-langkah di bawah ini:
- Lakukan Re-Profilling
Jika profiling adalah menentukan target market sebelum usaha dimulai. Sebaliknya re-profiling menentukan target market setelah bisnis berjalan berdasarkan data. Apa yang harus diuji saat re-profiling?
-
- Sebarkan sampel ke beberapa komunitas dengan target pasar yang berbeda-beda.
- Gunakan data penjualan, liat bagaimana penjualannya, testimoni, dan berapa persen konsumen yang melakukan pembelian lagi.
- Sebarkan kuesioner melalui online.
- Dari sampel yang disebar, berdasarkan data penjualan dan kuesioner, kamu melihat profil terbesar dari itu semua. Misalkan usia, jenis kelamin, lokasinya dari mana, bagaimana gaya hidupnya, kelas sosial, dan alasan membelinya.
- Setelah mendapatkan profil baru lakukan tes penjualan.
- Sesuaikan kembali visual brand identity berdasar profil yang baru.
Melakukan re-profiling bukan berarti kegagalan. Justru kamu mampu memperbaiki sesuatu yang terlihat salah. Karena bisa jadi produk kita yang sudah baik tapi cara menyampaikannya salah atau tidak tepat sasaran. Atau bisa juga visual brand identity yang dibuat bagi konsumen tidak nampak kredibilitasnya.
Branding memerlukan waktu, branding bukanlah sesuatu yang instan, Tapi hasilnya sepanjang masa.